OTAK TIKUS MENJALANKAN ROBOT

Universitas Reading di Inggris pada tahun 2008 mempublikasikan sebuah penemuan baru. Mereka berhasil membuat sebbuah robot yang berjalan dan menghindari dinding dengan navigasi dari otak tikus. Normalnya robot yang dikendalikan oleh microchip yang dihubungkan ke panel sirkuit , namun robot ini dikendalikan oleh pot kecil yang menguhubungkan node-node sensor dengan 300.000 neuron dari otak tikus, nutrisi, dan antibiotic.

Untuk menciptakan robot ini, para ilmuan membedah janin tikus dan mengambil neural cortex-nya. Setelah itu, neural cortex ini di beri enzim agar neuron-neuronnya memisahkan diri dan dapat di ambil. Setelah itu, neuron-neuron ini ditaruh di wadah yang dipenuhi nutrisi atau elektroda. Secara otomatis neuron-neuron ini berusaha menyentuh neuron lainnya, memuktikan teori bahwa sel-sel otak dapat saling menyambung dalam kondisi apapun, selama kondisi tersebut tidak mematikan mereka.

Wadah untuk neuron-neuron ini di beri delapan puluh elektroda, sehingga parailmuan dapat memantau kegiatan neuron di layar komputer. Hasilnya, terlihat neuron-neuron itu saling berkomunikasi dengan signal elektris. Setelah lima hari, pola kegiatan transmisi neuronnya mulai terbentuk, neuron-neuron mulai terlihat sering menghasilkan signal pada saat bersamaan. Kegiatan ini seperti terdapat pada otak seseorang dengan penyakit epilepsy atau kilas balik terhadap ingatan lalu, seperti layaknya suatu mahluk tanpa kaki dan tangan, kegiatan ini terpantau sebagai tidakan yang acak dan meminta signal instruksi.

Signal-signal elektronik lalu dieksekusi pada MEA ( multi-electrode array ) yang tersambung dengan jaringan neuron. Dari hasil stimulasi ini, kegiatan neuron-neuron meningkat hingga setara dengan kegiatan otak normal, yang memiliki potensi untuk menggerakan atau melakukan sesuatu.

Dimitris Xydas dan Julia Downes menghubungkan jaringan neuron dengan sensor ultrasound di robot beroda. Mereka mendata kegiatan voltase di jaringan neuron ketika sensor tertentu mengirimkan signal dan dari data inilah mulai ditemukan fungsi-fungsi kelompok neuron, seperti untuk membuat robot menghindari hambatan. Tes sama oleh Steve Porter di Georgia Tech juga mendapatkan hasil yang berarti, dimana robot 90% dapat mmenghindari tubrukan dengan dinding.

Saat ini, penelitian dilanjutkan dengan usaha memanipulasi ‘otak’ si robot secara kimiawi, elektrik, dan fisik untuk dapat mengetahui apa penyebab penyakit-penyakit seperti alzheimeir, Parkinson, dan epilepsy. Bahkan para ilmuan optimis kelanjutan dari penelitian ini dapat menemukan cara agar otak melewati atau mengaktifkan kembali kelompok neuron yang tidak berfungsidi para penderita penyakit tersebut. Neuron-neuron pada ‘otak’ robot ini sendiri cukup peka, mereka harus ditempatkan pada wadah bersuhu yang sama dengan tubuh dan tidak boleh terkena materi dari luar.

Penelitian ini tidak dilakukan sendiri oleh Universitas Reading melainkan denga bantuan dari kelompok ilmuawan di seluruh dunia, yang berkumpul pada konferensi di Reutingen, Jerman, Juli 2008 lalu.

Referensi : majalah COMPUTING CHANNEL agustus 2008