Nah, pada penulisan saya yang sekarang ini akan membahas dan membandingkan kriptografi MD5 dengan SHA-1…

Kriptografi (cryptography) berasal dari bahasa Yunani yaitu cryptos artinya rahasia (secret) dan graphein artinya tulisan (writing). Jadi kriptografi berarti tulisan rahasia (secret writing). Kriptografi tidak hanya ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas data, nirpenyangkalan, otentikasi tetapi juga sekumpulan teknik yang berguna.

Berdasarkan kunci yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi, kriptografi dapat dibedakan lagi menjadi kriptografi kunci simetri dan kriptografi kunci asimetri. Pada sistem kriptografi kunci simetri, kunci untuk enkripsi sama dengan kunci untuk dekripsi. Jika kunci untuk enkripsi tidak sama dengan kunci untuk dekripsi, maka dinamakan sistem kriptografi asimetri.

Nah, didalam kriptografi ini, terdapat fungsi Hash yaitu suatu cara menciptakan “fingerprint” dari berbagai data masukan. Fungsi Hash akan mengganti atau mentranspose-kan data tersebut untuk menciptakan fingerprint, yang biasa disebut hash value. Hash value biasanya digambarkan sebagai suatu string pendek yang terdiri atas huruf dan angka yang terlihat random (data biner yang ditulis dalam notasi heksadesimal). Hash juga merupakan suatu metode yang secara langsung mengakses record-record dalam suatu tabel dengan melakukan transformasi aritmatik pada key yang menjadi alamat dalam tabel tersebut. Key merupakan suatu input dari pemakai di mana pada umumnya berupa nilai atau string karakter.

Pelacakan dengan menggunakan Hash terdiri dari dua langkah utama, yaitu:

1. Menghitung Fungsi Hash.
Bila terjadi dua atau lebih key yang berbeda dipetakan ke alamat yang sama dalam tabel. Peristiwa ini disebut dengan collision (tabrakan). Karena itulah diperlukan langkah berikutnya, yaitu collision resolution (pemecahan tabrakan).
2. Collision Resolution.
Collision resolution merupakan proses untuk menangani kejadian dua atau lebih key di-hash ke alamat yang sama. Cara yang dilakukan jika terjadi collision adalah mencari lokasi yang kosong dalam tabel Hash secara terurut. Cara lainnya adalah dengan menggunakan fungsi Hash yang lain untuk mencari lokasi kosong tersebut. Algoritma fungsi hash yang baik adalah yang menghasilkan sedikit hash collision.

Sudah banyak algoritma fungsi hash yang diciptakan, namun fungsi hash yang umum digunakan saat ini adalah MD5 dan SHA (Secure Hash Algorithm). Ini loh yang akan kita cari tahu perbedaannya?! Pada kedua algoritma tersebut didesain untuk prosesor 32 bit, dan tidak dapat diimplementasikan untuk prosesor 64 bit.

MD5
Fungsi hash yang paling banyak digunakan dalam keamanan jaringan komputer dan internet adalah MD5 yang dirancang oleh Ron Rivest yang juga merupakan salah satu pengembang algoritma RSA pada tahun 1991. MD5 merupakan kelanjutan daru MD4 yang dirancang dengan tujuan keamanan. Secara perhitungan matetamatis tidak dimungkinkan untuk mendapatkan dua pesan yang memiliki hash yang sama. Tidak ada serangan yang lebih efisien untuk membongkar/mengetahui hash suatu pesan selain brute-force.
MD5

CARA KERJA MD5
MD5 mengolah blok 512 bit, dibagi kedalam 16 subblok berukuran 32 bit. Keluaran algoritma diset menjadi 4 blok yang masing-masing berukuran 32 bit yang setelah digabungkan akan membentuk nilai hash 128 bit. Pesan diberi tambahan sedemikian sehingga panjang menjadi k-bit, dimana k = 512n – 64 bit. n merupakan blok masukan. Tambahan ini diperlukan hingga pesan menjadi k bit. Kemudian 64 bit yang masing kosong, dibagian akhir, diisi panjang pesan. Inisiasi 4 variabel dengan panjang 32 bit yaitu a,b,c,d. Variabel a,b,c,d dikopikan ke variabel a,b,c,d yang kemudian diolah melalui 4 tahapan yang sangat serupa. Setiap tahapan menggunakan 16 kali operasi berbeda, menjalankan fungsi nonlinear pada tiga variabel a,b,c, atau d. Hasilnya ditambahkan ke variable keempat, subblok pesan dan suatu konstanta. Kemudian dirotasi kekiri beberapa bit yang kemudian ditambahkan ke salah satu dari a,b,c, atau d. Kemudian nilai a,b,c, dan d menggantikan nilai a,b,c, dan d. Kemudian dikeluarkan output yang merupakan gabungan dari a,b,c, dan d. Fungsi kompresi yang digunakan oleh algoritma md5 adalah sebagai berikut :
a ← b + (( a + g ( b,c,d) + X[k] + T[i] <<< s ), dimana g adalah salah fungsi primitif F,G,H,I
seperti dibawah ini :
operasi
dan operasi XOR, AND, OR, dan NOT adalah sebagai berikut :
operasi2

SHA
SHA dikembangkan oleh National Institute of Standards and Technology ( NIST ) dan National Security Agency ( NSA ) sebagai komponen Digital Signature Standart ( DSS ). Standart hash adalah Secure Hash Standart ( SHS ) dengan SHA sebagai algoritma yang digunakan. SHS menetapkan SHA yang diperlukan untuk menjamin keamanan Digital Signature Algorithm ( DSA ).
SHA-1

SHA – 1
Sebuah versi revisi dari SHA sebagai FIPS 180-1 pada tahun 1995 dan secara umum dikenal sebagai SHA-1.

CARA KERJA SHA – 1
Pesan diberi tambahan untuk membuat panjangnya menjadi kelipatan 512 bit ( l x 512 ). Jumlah bit asal adalah k bit. Tambahkan bit secukupnya sampai 64 bit kurangnya dari kelipatan 512 ( 512 – 64 = 448 ), yang disebut juga kongruen dengan 448 ( mod 512 ). Kemudian tambahkan 64 bit yang menyatakan panjang pesan. Inisiasi 5 md variabel dengan panjang 32 bit yaitu a,b,c,d,e. Pesan dibagi menjadi blok-blok berukuran 512 bit dan setiap blok diolah. Kemudian keluaran setiap blok digabungkan dengan keluaran blok berikutnya, sehingga diperoleh output ( diggest ). Fungsi kompresi yang digunakan oleh algoritma sha-1 adalah sebagai berikut :
A,b,c,d,e ← ( e + f(t,b,c,d) + s5(a) + wt + kt),a,s30(b),c,d.

PERBANDINGAN SHA-1 DAN MD5
Karena SHA-1 dan MD5 dikembangkan atau diturunkan dari MD4 maka keduanya mempunyai kemiripina satu sama lain, baik kekuatan dan karakteristiknya. Berikut ini perbedaannya :

1. Keamanan terhadap serangan brute-force. Hal yang paling penting adalah bahwa SHA-1 menghasilkan diggest 32-bit lebih panjang dari MD5. Dengan brute-force maka SHA-1 lebih kuat dibanding MD5.
2. Keamanan terhadap kriptanalisis. Kelemahan MD5 ada pada design sehingga lebih mudah dilakukan kriptanalisis dibandingkan SHA-1
3. Kecepatan. Kedua algoritma bekerja pada modulo 232 sehingga keduanya bekerja baik pada arsitektur 32 bit. SHA-1 mempunyai langkah lebih banyak dibandingkan MD5 ( 80 dibanding MD5 64 ) dan harus memproses 160 bit buffer dibanding DM5 128 bit buffer, sehingga SHA-1 bekerja lebih lambat dibanding MD5 pada perangkat keras yang sama.
4. Simplicity. Kedua algoritma simple untuk dijelaskan dan mudah untuk diiemplementasikan karena tidak membutuhkan program yang besar atau tabel subtitusi yang besar pula.

ref :
http://id.wikipedia.org/wiki/MD5
Keamanan-Komputer.PDF
http://ilmukomputer.org/2007/03/27/md5-dan-sha-1-kriptografi-dengan-fungsi-hash/